Kamis, 21 Juni 2012

SUMMARY

Local Community-Based Disaster Management: A Local Community Participatory Approach  To Addressing The problem of Ineffectiveness  Disaster Management In Indonesia
Written by : Al kindi Harley
Simak
Baca secara fonetik

1.Background
Indonesia is a country rich in diversity, ranging from cultural diversity to the diversity of natural wealth. This is because Indonesia is a very strategic location. Because of this location as well, Indonesia is in the pacific ring of fire area. Pacific ring of fire is the area around the disaster-prone Pacific ocean. Therefore, Indonesia is also a country that has diversity of disasters such as earthquakes, tsunamis, volcanic eruptions, floods, forest fires, conflict and terror.

Of course, these disasters cause huge loss for us if that happens. For example, the devastating earthquake and tsunami in Aceh on 26 December that resulted in 216,000 dead and 29,579 homes were destroyed. This is just one example of losses due to disasters,  how if we calculate the overall losses due to disasters from 2004 until now?.

Realizing this, we, the State and all concerned shall immediately be prepared to face the disasters. Perhaps this natural disaster that can not be prevented, because of natural disasters is a natural cycle that would occur. That only we can do is get ready (before-during-after the disaster) and how to prevent these disasters for not too many casualties and harm our socio-cultural, economic, psychological as well as its other.

Ketika Nelayan Harus sandar dayung Studi Nelayan Miskin di Desa Kirdowono

Di tulis oleh     : Pujo Semedi H. Juwono
Di review oleh : Al Kindi Harley 

Apa yang terbayang dipikiran kita jika mendengar kata ‘nelayan’ ? setidaknya pasti terlintas seseorang yang melaut, ikan, perahu , wilayah pesisir, kail, pancingan, dan dan lain sebagainya.  Nelayan bisa dikatan orang - yang melaut untuk mencari ikan dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari – hari dan menjualnya ke pasaran untuk di kosumsi orang lain. Tulisan yang sedang kita baca ini adalah sebuah review buku yang akan bercerita tentang kehidupan salah satu kelompok  nelayan Indonesia . penulis buku ini adalah orang yang cukup berkompeten dalam bidang ini. Ia sudah lama berbaur dengan masyarakat nelayan yang ia teliti. 

Buku ini terdiri dari 8 Bab yang menceritakan hampir keseluruhan kehidupan nelayan yang ia lihat di lapangan dan bagaimana pasang - surutnya kehidupan mereka. Ia juga menjelaskan bukunya itu tidaklah terlepas dari hal yang bersifat subjektif. Bab pertama dan ke-dua serta ke-tiga menjelaskan kehidupan yang terpaksa ‘menderita’ karena urusan perut dan latar belakang nelayan tersebut , sejarah ‘kesusahan’ mereka dari jaman sebelum dijajah jepang sampai orde baru dan juga mencoba mengkritisi teori yang mengatakan bahwa kehidupan nelayan adalah seimbang  atau equilibrium. Padahal kenyataannya kehidupan tersebut menurun ke bawah, dari miskin semakin miskin. Bab ke-empat mencoba menjelaskan apa yang dilakukan oleh nelayan dalam berjuang dan berusaha  untuk nerdaptasi dengan alam dalam melawan ‘kemiskinan’ mereka. Apapun mereka lakukan.  Memfaatkan waktu untuk memperbaiki jaring yang rusak, mengunakan pengetahuan lokal tentang musim, bintang, mau tidak mau menerima perbedaan antara kaya dan miskin dan lain sebagainya. Bab selanjutnya menjelaskan bagaimana keramahan mereka terhadap sesama. Berbagi apa yang bisa di bagi walaupun dalam keadaan susah. Hingga pada waktu Mereka tergusur pemodal yang lebih besar dan menjadi buruh pemodal.

KEMISKINAN : SUATU TINJAUAN TEORI

OLEH : AL KINDI HARLEY

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata ‘kemiskinan’ ? pastinya yang terbayang adalah sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan. Tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup, penganguran, pendidikan kurang, kesehatan kurang, tinggal di tempat yang tidak layak, pendapatan tidak mencukupi makan seluruh anggota keluarga – makan seadanya, dan kondisi lainnya yang jauh dari kelayakan dan ini terjadi di sekitar kita.

Kondisi dan fenomena kemiskinan yang mengungkung sebagian besar masyarakat kita hingga kini masih menyimpan banyak perdebatan. Perdebatan tersebut terutama seputar teori, konsep maupun metode-metode yang menyangkut tentang kondisi kemiskinan di sekitar kita. Perdebatan dimulai dengan penyusunan konsep, indikator, dan langkahlangkah termasuk kebijaksanaan yang harus diambil berhubungan dengan cara mengatasinya, atau dengan bahasa praktisnya penanggulangan kemiskinan. Hal ini menjadi makin menjadi kontras, tatkala pihak-pihak yang mengalami atau berada dalam ‘kondisi miskin’ terus bertambah julah atau tingkat kemiskinanya.

Kemiskinan seperti diungkapkan oleh Suparlan (1994), dinyatakan sebagai suatu keadaan kekurangan harta atau benda berharga yang diderita oleh seseorang atau sekelompok orang. Akibat dari kekurangan harta atau benda tersebut maka seseorang atau sekelompok orang itu merasa kurang mampu membiayai kebutuhankebutuhan hidupnya sebagaimana layaknya. Kekurang mampuan tersebut mungkin hanya pada tingkat kebutuhan-kebutuhan budaya (adat, upacara-upacara, moral dan etika), atau pada tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan social (pendidikan, berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama) atau pada tingkat pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang mendasar (makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal atau rumah, kesehatan dan sebagainya). 

PARADIGMA KRITIS DAN SYARIAT ISLAM ACEH SAAT INI

Oleh: Al Kindi Harley - Opini

Ide tulisan ini bermula ketika saya mengotak- ngatik file yang ada di laptop saya. Tampa sengaja saya menemukan sebuah artikel yang pernah saya ambil dari serambi online. Artikel tersebut berjudul “Masi Acehkah kita?” yang di tulis oleh Muhammad Adam pada kolom Opini (Serambi, 20 april 2011). Artikel tersebut mencoba mengajak kita mengevaluasi diri terhadap “keacehan” kita. Apa kita ini Aceh “asli” atau tidak. Fokus evaluasinya di ambil dari konsep globalisasi 3F (food, fashion dan fun), politisasi baju adat dan identitas (nama dan bahasa).

Dari ulasan artikelnya, Muhammad Adam merasa gelisah, was –was , dan mungkin “takut” akan perubahan serta degradasi sosial-budaya masyarakat Aceh saat ini. Ia memaparkan mungkin kita sudah mulai merasa hilangnya nilai ‘keaslian’ dari ‘keacehan’ kita. Ia menyuguhkan fakta bahwa ada banyak remaja yang malu berbahasa Aceh (bagi saya bahasa Aceh itu bukan hanya bahasa yang di gunakan oleh masyrakat Pidie, Banda Aceh, Lhoksemawe, Bireun, Meulaboh, Calang dll, tapi juga bahasa Gayo, Devayan, bahasa Klued, bahasa Taluk/Aneuk Jame dan lain sebagainya yang mengkontruksikan kayanya bahasa Aceh), hilangnya kue tradisional Aceh, sudah kurang nama – nama Islami karena anggapan tidak keren, kurannya penggunaan baju adat oleh pemimpin dan lain sebagainya. 

Tidak bisa dipungkiri, perubahan memang merupakan konsekuensi logis dari perkembangan keilmuan yang harus kita tanggung. Bukan hanya karena perkembangan keilmuan, tapi memang masyrakat pasti akan berubah dimanapun itu. Kalau dalam Islam disebutkan dari zaman jahiliyah ke jaman yang tidak jahiliyah lagi. Atau bahasanya kaum developmentalis, dari masyarakat “tertingal”, tradisonal, “kampungan”, menjadi masyarakat “maju”, urban people, “hebat”, dan modern. Namun pertanyaan, sudah siapkah kita berubah ? sudah siapkah kita mengkritisi perubahan dan artinya mengkritisi diri sendiri, mengkritisi keacehan kita dan mengkritisi keistimewaan kita ‘Syariat Islam Aceh’ ?  

Selasa, 06 Desember 2011

CATATAN KECIL : KPU FAKULTAS, APA ITU?

Oleh : Al kindi harley

Salah satu syarat yang tetera pada pengunguman pengrekrutan calon anggota KPU di fakultas FISIP USU adalah membuat tulisan paling sedikit satu halaman A4 mengenai apa itu KPU fakultas. Menurut salah satu panitia penyelengara kenapa syarat itu di ajukan adalah untuk melihat pemahaman calon anggota KPU FISIP USU mengenai apa itu KPU. Berbicara pemahaman tentanag KPU, mungkin saya tidak terlalu paham dan karena itulah saya berniat mencalonkan diri. Tapi setidaknya saya akan menjelaskan sedikit tentang KPU yang saya pahami. Dan untuk batasan pembahasannya, hanya di paparkan secara umum.

Demokrasi dan KPU
Pesta demokrasi, mungkin kata itu yang tepat dan tidak terlalu berlebihan untuk menganbarkan sebuah keadaan dimana seluruh rakyat di Indonesia ini ‘bereforia’ mengatas-nama-kan kebebasan untuk memilih dan dipilih. Dalam konteks demokrasi, kebebasan untuk memilih dan di pilih adalah suatu ‘spirit’ yang  terus di perjuangkan dan di agung-agungkan saat pemilihan suatu pemimpin mulai dari tatanan atas sampai pada tatanan yang bawah. Tatanan atas yang dimaksud misalnya pemilihan presiden, gubernur, kepala daerah dan walikota. Dan pemilihan pada tingkat tatanan bawah misalnya , pemilihan ketua RW/RT, ketua kelas, Osis dan lain sebagainya.